Sabtu, 14 Desember 2013

Jika Tuhan yang menyatukan kita



Ku membuka mataku perlahan. Bahagia yang tak terukur bagiku datang menjemputku untuk mengawali hari-hariku. Aku bersukacita menyambut hari baruku denganmu. Aku tau walaupun ini semua adalah cinta diam-diam (backstreet). Aku minta maaf karena orang tuaku tak suka jika tau aku sudah menjalin hubungan yang ‘lebih dari teman’ seperti yang kita jalani saat ini.

Lambat laun aku terhanyut bahagia berada disimu. Menjadi orang nomor satu di hatimu. Menjadi pemilik hatimu saat ini. Tapi entah mengapa ada keraguan yang datang tentang semua kisah cinta ini. Aku takut untuk membohongi kedua orang tuaku. Mungkin disisi ini aku egois dan hanya mementingkan diriku sendiri. Tak peduli akan semua perasaanmu.

Kita memilih berpisah dan hanya menjadi seorang teman. Pilihan terbodoh yang kupilih!. Aku tau dan kusadari bahwa pilihan ini menyulitkanmu. Kau berjanji kau akan menungguku hingga waktu yang tepat. Aku memegang janjimu itu.  Janjimulah yang membuatku tetap bertahan dengan kesendirianku kini.

Hingga akhirnya kumelihat ada seseorang baru yang menemanimu  dalam hari-harimu. Aku tak tau siapakah dia dalam hidupmu. Entah itu pengisi hatimu atau hanya sekedar adik kelas biasa. Semakin lama kumelihat kedekatanmu dengannya, dan semakin lama ku semakin meragukan janjimu yang akan menungguku.

Kutanyakan semua hal ini padamu. Memang disini aku terlihat bodoh dan egois. Seakan-akan kau hanya untukku. Padahal kutau menunggu adalah hal yang paling membosankan. Semain kupertanyakan, semakin kau menyalahkanku dan menuduhku dengan kedekatanku dengan beberapa pria lain.

Seperti yang kau ketahui, hanya dirimulah yang ada dihati ini. Walau memang keadaan yang membuat kita tuk berpisah. Tak bisa kutahan semua air mata ini hanya karenamu. Saat tak ada lagi kata yang dapat kulontarkan padamu, hanya tetesan air mata yang berasal dari dalam hati ini. Aku tak mengerti apa yang akan terjadi setelah ini. Biarkan semuanya berjalan mengalir seperti air.

Biarkan aku sendiri dengan bahagia dan duniaku. Dan kamu, silahkan dengan pilihanmu sendiri dan semoga berbahagia. Tapi kupercaya, jika Tuhan yang merencanakan kita agar bersatu maka kita akan dapat bersatu seperti dahulu. Bersatu dalam hangat dan pelukan; yaitu CINTA.

Waktu semakin berlalu. Semakin kucuboa melupakanmu. Hingga suatu saat kau mengirimiku sebuah pesan singkat yang membuatku merasa aneh dan heran. Kau menanyakan kabarku dan mengatakan bahwa selama ini kedekatanmu dengan wanita itu tidak berjalan sesempurna saat ku dekat denganmu.

Kau juga mengatakan bahwa kau tak bisa menyangkali bahwa hanya aku yang kau dambakan. Memang sulit saat kumembaca senua ini. Entah senang atau sedih yang kukeluarkan. Entah tawa atau air mata yang muncul setelah ini. Oh Tuhan.. mengapa semua menjadi seperti saat ini. Aku sudah mencoba tuk melupakannya dan membiarkan dia bahagia dengan yang lain.

Kucoba tuk memaafkanmu dan menerimamu kembali. Walaupun kita tak berjalan seperti saat kita bersatu dalam hangatnya romansa cinta. Biarkan semuanya beejalan seiring berjalannya waktu. Entah kita dapat bersatu kembali atau mungkin kita hanya akan tetap bertahan hanya dengan sebuah status pertemanan saja.
Tapi aku tetap meyakini bahwa jika Tuhan yang berkehndak menyatukan kita maka tak akan ada yang dapat memisahkan kita :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar